Society Spectacle
bahasan tentang media memang tidak ada habisnya akhir-akhir ini. media menjadi raja dari segala informasi, media menjadi Tuhan yang menentukan segala aspek kehidupan. media bisa menanyangkan apa saja dari media cetak,media massa, media eletronik semuaa menyediakan semua aspek yang dibutuhkan oleh manusia modern,
ya manusia modern dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ternyata menimbulkan sebuah kegagapan berfikir. bukan berhenti berfikir tetapu terkadang media mempertontonkan sesuatu secara instan, dan serba showbiz. Indonesia kita tahu sebuah negara berkembang yang pusat dari semua pusat berada di Jakarta.
semua ada di jakarta, ya Indonesia mini. dari berbagai manusia dari latar belakang etnis yang berbeda, dari kalangan si kaya, si miskin, bahkan si gila ada di jakarta. atau masih banyak lagi pengelompokan manusia yang ada di dalam ilmu sosiologi.
gaya hidup yang serba metropolis dimulai dari sini, dari banyaknya mall, banyaknya gedung-gedung bertingkat, perusahaan asing, pusat pemerintahan. wow gaduh sekali jakarta. tapi itulah jakarta dengan berbagai macam kritik dan cemoohan tetap saja mempesona dan menggoda. menggoda setiap insan untuk "datang" dan kembali di jakarta.
di kota inilah dimulai semuanya kecenderungan gaya hidup society spectacle ini saya kutip dari artikel yang saya baca di internet dengan sebuah buku tentang mahalnya demokrasi memudarnya ideologi oleh Pramono Anung Wibowo Anggita DPR sebagai wakil ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan.
Isi dari artikel tersebut adalah sebagai berikut :
Adalah menarik, ketika mengikuti pemikiran Debord, bahwa yang dimaksud dengan spectacle dalam tulisannya yang berjudul “The Commodity as Spectacle” adalah sesuatu yang membalikkan kenyataan, yang menyatukan sekaligus menjelaskan fenomena keragaman “yang terlihat” menjadi sesuatu yang luar biasa. Tontonan di sini bukanlah melulu pesan atau makna yang disampaikan oleh media komunikasi mainstream seperti televisi, dsb, namun bagaimana segala bentuk macam komoditas dalam pengertian lebih luas, akhirnya membentuk pola pikir masyarakat menjadi tidak sekedar mengkonsumsi manfaat dari sebuah produk komoditi, namun juga mengkonsumsi nilai “to be looking at” dalam kesehariannya. Artinya, komoditas yang bertubi-tubi dibawa oleh kepentingan ekonomi kapitalis modern ini, disodorkan kepada kehidupan sosial sehingga merubah definisi dari seluruh kesadaran manusia, yang bermula mengenal concept of being, menjadi having, dan selanjutnya adalah appearing. Sebagai contoh konsep hijab dari masa ke masa. Pada awalnya memakai hijab adalah bentuk identifikasi seseorang menjadi muslimah. Namun seiring maraknya berbagai komoditas hijab modern, maka konsep “being muslimah” tersebut dalam satu waktu bergeser dengan ditambahnya identifikasi sebagai “muslimah modern, stylish, fashionable”, yang pada akhirnya hanya berkutat pada persoalan penampilan, representasi, dan penampakan dari luar yang menjadi alasan konsumsi suatu komoditas. Jika sudah masuk pada wilayah “tampak”(appearance), maka hal ini beriringan dengan logika tontonan (spectacle). Nilai dari having kemudian dengan segera mengharuskan munculnya fungsi prestise dan “yang paling mewah” dalam satu waktu. Sehingga, pada akhirnya, orang mengkonsumsi sebuah barang, demi kepentingan tontonan, citra, dan representasi di khalayak publik.
dari artikel di atas sangat menggambarkan fenomena sosial yang terjadi saat ini, termasuk saya, yah saya sudah masuk dalam komunitas tersebut. tetapi hal itu mungkin harus selalu diadadakan koreksi dan introspeksi.
islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan moral yang baik menjadi komoditi ekonomi yang tidak bertanggung jawab. identitas muslim hanya dari jilbab inilah terkadang yang membuat islam sekarang menjadi semakin terasing dari nilai islam yang sesungguhnya.
entahlah mungkin saya, kita berpura-pura peduli tapi ternyata dalam hati dan fikiran masih terfokus menjadi "tontonan" tanpa nilai tanpa isi. wanita kembali menjadi sasaran utama dari dari berbagai program perekonomian berbasis hijab ini.
bukan berdagang tidak baik, tapi terkadang hanya mementingkan sebuh keuntungan bisnis tanpa mengindahkan nilai agama lagi. bukankah ini tanda kehancuran sebuah agama, atau orang sudah mulai bosan dengan kata2 dosa, semua serba boleh, semua serba maklum, semua serba pantas dan yang ada sekarang semua serba rusak, dan smua serba munafik.
mungkin ini hanya kekotoran hati dan fikiran saya saja tetapi hidup menjadi tontonan nilai bisa menjadikan penyakit jiwa yang sediki demi sedikit mengurangi massa kebahagian hidup. berusahalah lebih tegar, jangan lupakan Al-quran dan Hadist mudah-mudahan dalam kesenderian dan ramai kita tetap mengingat Allah... dan bisa semakin kokoh dan tegas dalam melihat fenomena gaya hidup manusia indonesia...
still fool still hungry.... tidak ada kegagalan yang ada hanya proses belajar yang belum maksimal....
ya manusia modern dengan berbagai kecanggihan teknologi yang ternyata menimbulkan sebuah kegagapan berfikir. bukan berhenti berfikir tetapu terkadang media mempertontonkan sesuatu secara instan, dan serba showbiz. Indonesia kita tahu sebuah negara berkembang yang pusat dari semua pusat berada di Jakarta.
semua ada di jakarta, ya Indonesia mini. dari berbagai manusia dari latar belakang etnis yang berbeda, dari kalangan si kaya, si miskin, bahkan si gila ada di jakarta. atau masih banyak lagi pengelompokan manusia yang ada di dalam ilmu sosiologi.
gaya hidup yang serba metropolis dimulai dari sini, dari banyaknya mall, banyaknya gedung-gedung bertingkat, perusahaan asing, pusat pemerintahan. wow gaduh sekali jakarta. tapi itulah jakarta dengan berbagai macam kritik dan cemoohan tetap saja mempesona dan menggoda. menggoda setiap insan untuk "datang" dan kembali di jakarta.
di kota inilah dimulai semuanya kecenderungan gaya hidup society spectacle ini saya kutip dari artikel yang saya baca di internet dengan sebuah buku tentang mahalnya demokrasi memudarnya ideologi oleh Pramono Anung Wibowo Anggita DPR sebagai wakil ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan.
Isi dari artikel tersebut adalah sebagai berikut :
Adalah menarik, ketika mengikuti pemikiran Debord, bahwa yang dimaksud dengan spectacle dalam tulisannya yang berjudul “The Commodity as Spectacle” adalah sesuatu yang membalikkan kenyataan, yang menyatukan sekaligus menjelaskan fenomena keragaman “yang terlihat” menjadi sesuatu yang luar biasa. Tontonan di sini bukanlah melulu pesan atau makna yang disampaikan oleh media komunikasi mainstream seperti televisi, dsb, namun bagaimana segala bentuk macam komoditas dalam pengertian lebih luas, akhirnya membentuk pola pikir masyarakat menjadi tidak sekedar mengkonsumsi manfaat dari sebuah produk komoditi, namun juga mengkonsumsi nilai “to be looking at” dalam kesehariannya. Artinya, komoditas yang bertubi-tubi dibawa oleh kepentingan ekonomi kapitalis modern ini, disodorkan kepada kehidupan sosial sehingga merubah definisi dari seluruh kesadaran manusia, yang bermula mengenal concept of being, menjadi having, dan selanjutnya adalah appearing. Sebagai contoh konsep hijab dari masa ke masa. Pada awalnya memakai hijab adalah bentuk identifikasi seseorang menjadi muslimah. Namun seiring maraknya berbagai komoditas hijab modern, maka konsep “being muslimah” tersebut dalam satu waktu bergeser dengan ditambahnya identifikasi sebagai “muslimah modern, stylish, fashionable”, yang pada akhirnya hanya berkutat pada persoalan penampilan, representasi, dan penampakan dari luar yang menjadi alasan konsumsi suatu komoditas. Jika sudah masuk pada wilayah “tampak”(appearance), maka hal ini beriringan dengan logika tontonan (spectacle). Nilai dari having kemudian dengan segera mengharuskan munculnya fungsi prestise dan “yang paling mewah” dalam satu waktu. Sehingga, pada akhirnya, orang mengkonsumsi sebuah barang, demi kepentingan tontonan, citra, dan representasi di khalayak publik.
dari artikel di atas sangat menggambarkan fenomena sosial yang terjadi saat ini, termasuk saya, yah saya sudah masuk dalam komunitas tersebut. tetapi hal itu mungkin harus selalu diadadakan koreksi dan introspeksi.
islam sebagai agama yang sangat menjunjung tinggi kesederhanaan dan moral yang baik menjadi komoditi ekonomi yang tidak bertanggung jawab. identitas muslim hanya dari jilbab inilah terkadang yang membuat islam sekarang menjadi semakin terasing dari nilai islam yang sesungguhnya.
entahlah mungkin saya, kita berpura-pura peduli tapi ternyata dalam hati dan fikiran masih terfokus menjadi "tontonan" tanpa nilai tanpa isi. wanita kembali menjadi sasaran utama dari dari berbagai program perekonomian berbasis hijab ini.
bukan berdagang tidak baik, tapi terkadang hanya mementingkan sebuh keuntungan bisnis tanpa mengindahkan nilai agama lagi. bukankah ini tanda kehancuran sebuah agama, atau orang sudah mulai bosan dengan kata2 dosa, semua serba boleh, semua serba maklum, semua serba pantas dan yang ada sekarang semua serba rusak, dan smua serba munafik.
mungkin ini hanya kekotoran hati dan fikiran saya saja tetapi hidup menjadi tontonan nilai bisa menjadikan penyakit jiwa yang sediki demi sedikit mengurangi massa kebahagian hidup. berusahalah lebih tegar, jangan lupakan Al-quran dan Hadist mudah-mudahan dalam kesenderian dan ramai kita tetap mengingat Allah... dan bisa semakin kokoh dan tegas dalam melihat fenomena gaya hidup manusia indonesia...
still fool still hungry.... tidak ada kegagalan yang ada hanya proses belajar yang belum maksimal....
Komentar
Posting Komentar