Kenapa Harus Politik ?
beribu pertanyaan kadang menghujam kepala ini, kenapa aku berada disni. politik seperti ini bukan tujuan ku yang serius. tidak sesuai dengan kepribadianku.. hati bergejolak menyangkal soal politik. pesimis dan apatis, itu yang kadan kurasakan. melihat, mengenal orang-orang yang terjun langsung ke politik, walaupun segelintir tetap memperlihatkan bagaimana orang-orang politik yang sebenarnya.
politik bebas nilai itu adalah bohong...
sepertinya saya tersesat disini, ya disini di politik, rasanya ingin lari, hanya ingin pergi dan mengambil ijazah magister ilmu politik. tetapi makin kutelusuri makin kubaca tentang politik. ada sesuatu yang "sexy" di dalamnya ada hal-hal yang sangat multitafsir, filosofis dan banyak makna yang ingin disampaikan dengan sebuah kata.
politik identik dengan kekuasaan, kekuasaan yang dipegang oleh para elite, lalu sistem politiknya demokrasi. kekuasaan di tangan rakyat. demokrasi? seperti gaunagan dalam sebuah kertas, garang di dalam tataran dalam kertas, dalam realita itu tidak bisa memberikan bukti tentang kedemokrasiian itu.
semua serba dipaksakan.
tapi yang saya yakini, inilah harga mahal sebuah demokrasi, ini adalah proses yang mau tidak mau, rela tidak rela harus dijalani oleh seluruh rakyat Indonesia.
mungkin suatu hari saya akan ada disebuah partai politik dengan topeng-topeng membawa nama demokrasi. membayangkan saja sudah membuat aku jijik.
bagaimana orang berbicara soal politik bila Indonesia masih lapar? Masih banyak yg miskin? bukan hanya kemiskinan harta tetapi miskinnya pola pikir yang kritis dan progresif.
mungkin ada beberapa yang sangat tanggap politik, tapi berapa orang?
semua sudah dicuci bersih dan rapi dalam media, bingkai media yang sangat ganas akhir-akhir ini.
belum lagi black campaign yang sering terlihat di berbagai media sosial.
bila ditanyakan kepada sang aktor politik, jawaban sakralnya jangan termakan isu.
tapi sayang isu itu sudah terlalu lama menjadi santapan kami di media sosial.
lalu bagaimana kita memilih sikap dalam berpolitik, politik hanya identik dengan pemilu, pilkada, tiba-tiba orang berbicara soal politik. tetapi tak mendasar, tanpa landasan dan sangat ambigu.
kenapa? karena media dan informasi tentang politik sangat minim, bila hanya mengandalkan TV sangat subejektif, bos-bos media adalah cukong-cukong yang mempunyai kepentingan mereka sendiri,
TV sangar jauh dari kata objektif.
sekrang media TV bukan hanya memberikan informasi atau berita, ttetapi lebih kepada menghembuskan wacana dalam framing media yang terkadang dengan latah dan polosnya kita termakan rayuan gombal dari berita-berita yang ditayangkan,
sepertinya media TV sangat sadis, yaa memang hanya kita tak sadar bahwa sesuatu yang tidak baik itu tidak berbungkus dengan ketidakbaikan.
bahasa media, narasumber, talkshow dan berita-berita sebenarnya menggiring kita ke sebuah konsep yang telah mereka persiapkan.
bila konsep-konsep itu sudah berhasil masuk ke dalam masyarakat, maka media TV sudah berhasiil,
ya, jangan terlalu polos menelan semuaa berita di tv, cermati dan tetap berfikir dengan kritis tentang pemberitaan yang ada.
politik bebas nilai itu adalah bohong...
sepertinya saya tersesat disini, ya disini di politik, rasanya ingin lari, hanya ingin pergi dan mengambil ijazah magister ilmu politik. tetapi makin kutelusuri makin kubaca tentang politik. ada sesuatu yang "sexy" di dalamnya ada hal-hal yang sangat multitafsir, filosofis dan banyak makna yang ingin disampaikan dengan sebuah kata.
politik identik dengan kekuasaan, kekuasaan yang dipegang oleh para elite, lalu sistem politiknya demokrasi. kekuasaan di tangan rakyat. demokrasi? seperti gaunagan dalam sebuah kertas, garang di dalam tataran dalam kertas, dalam realita itu tidak bisa memberikan bukti tentang kedemokrasiian itu.
semua serba dipaksakan.
tapi yang saya yakini, inilah harga mahal sebuah demokrasi, ini adalah proses yang mau tidak mau, rela tidak rela harus dijalani oleh seluruh rakyat Indonesia.
mungkin suatu hari saya akan ada disebuah partai politik dengan topeng-topeng membawa nama demokrasi. membayangkan saja sudah membuat aku jijik.
bagaimana orang berbicara soal politik bila Indonesia masih lapar? Masih banyak yg miskin? bukan hanya kemiskinan harta tetapi miskinnya pola pikir yang kritis dan progresif.
mungkin ada beberapa yang sangat tanggap politik, tapi berapa orang?
semua sudah dicuci bersih dan rapi dalam media, bingkai media yang sangat ganas akhir-akhir ini.
belum lagi black campaign yang sering terlihat di berbagai media sosial.
bila ditanyakan kepada sang aktor politik, jawaban sakralnya jangan termakan isu.
tapi sayang isu itu sudah terlalu lama menjadi santapan kami di media sosial.
lalu bagaimana kita memilih sikap dalam berpolitik, politik hanya identik dengan pemilu, pilkada, tiba-tiba orang berbicara soal politik. tetapi tak mendasar, tanpa landasan dan sangat ambigu.
kenapa? karena media dan informasi tentang politik sangat minim, bila hanya mengandalkan TV sangat subejektif, bos-bos media adalah cukong-cukong yang mempunyai kepentingan mereka sendiri,
TV sangar jauh dari kata objektif.
sekrang media TV bukan hanya memberikan informasi atau berita, ttetapi lebih kepada menghembuskan wacana dalam framing media yang terkadang dengan latah dan polosnya kita termakan rayuan gombal dari berita-berita yang ditayangkan,
sepertinya media TV sangat sadis, yaa memang hanya kita tak sadar bahwa sesuatu yang tidak baik itu tidak berbungkus dengan ketidakbaikan.
bahasa media, narasumber, talkshow dan berita-berita sebenarnya menggiring kita ke sebuah konsep yang telah mereka persiapkan.
bila konsep-konsep itu sudah berhasil masuk ke dalam masyarakat, maka media TV sudah berhasiil,
ya, jangan terlalu polos menelan semuaa berita di tv, cermati dan tetap berfikir dengan kritis tentang pemberitaan yang ada.
Komentar
Posting Komentar