LAPORAN Dari Perbatasan Kalimantan Barat

jeng.. jeng kami berpetualang kembali... saya, adik, dan seorang bapak nya rukiyah yang sudah menjadi sopir berlisensi internasional
kami pergi pada hari sabtu, sekitar jam 01.00 PM dari pontianak menuju sambas, dengan menggunkan mobil xenia putih kami melaju dengan mulus. alhamdulilaah...
Sambas adalah kota yang tak pernah aku kunjungin sebelumnya, maklum biasanya perginya keluar kota pontianak. yaa ke pulau jawa dengan mas-mas medoknya hehehe
lanjut...
sampai disambas sekitar pukul 07.30 PM kami langsung menuju penginapan namanya PANTURA, entah kenapa namanya pantura. tapi aku sudah tak ada lagi daya untuk bertanya. harga cukup bersahabar dari standart sampe deluxe paling tinggi 6 rts ribu paling murah 100rb. kami memilih 150 rb yaitu standart II. 
dan kami pun langsung ke kamar, setelah bersih-bersih kami jalan-jalan menikamati suasana kota sambas di malam minggu.
satu kata sunyi krik kriik. yaa mgkn karena lokasi hotel memang dipinggir kota, beda dengan yg di dekat pasar ramee benerrr...
dan akhirnya kami memilih pergi ke waterfront, atas usulan dari temen deket saya yang sudah bermukim di Sambas. akhirnya kami pergi kesana dan wow.. romantis sekali menikmati sungai kapuas dari malam hari. sama seperti di Pontianak tp seprinta di sambas lebih banyak pepohonan belum banyak bangunan seperti di pontianak.
yaa begitulaah malam telah berakhir dan kami pulang ke hotel dan istirhat karena tau besok medan yang akan kami tempuh tidak biasa. karena perbatasan identik dengan jalan yang tidak memadai. huyeeee
tiba-tiba udh pagi aja. jam sthg 5 kami bangun, mandi sholat. stgh 6 kami check out dan sarapan di pasar. walaupun sarapan cuma teh dan telor setengah matang. 
perjalanan menuju perbatasan pun dimulai. namanya desa sebunga, kecamatan sajingan. marii ke perbatasan..
di kota sambas itu jalannya bagus menuju ke paloh. sekura mulai jalanya agak terjal batu-batu gitu. tapi lebar sih...
dan perjalanan tak terasa sudah 2 jam, belum ada tanda-tanda kami akan sampai ke Sajingan. sopir sudah mulai nyeletuk mungkin udh sampe nih,, belooooom.... hehehe
perjalanan kami diiringi oleh cd mp3 yang galauuu abis dari A sampe z GALAU semua kecuali lagunya si sule yang judulnyaa mimin aiih,,, asooy ..
sama lagunyaa ggaa tw deh siapa yg nyanyi lriknya cuma gini " kemenangan hanya untuk yang berjuang dan berdoa" cucook banget sama kami yang sdenag berjuang melawan jalan dan jmbatan yang sesekali aku harus keluar dan memastikan jembatan ini masih aman untuk dilewati atau enggak.
agak ketar ketir cumaa bisaa dilaluii, sampe di deket kecamatan sajingan, saya lupa kecamaran apa tepatnyaa jalan mulai tanah merah, berpasir dan berkerikil kecil kami sering berdampingan dengan stombal dan eksavator. yaa perbaikan jalan bergelombang bikin hati dag dig dug di mobil, ak yang gaa pernah pake safety belt akhirnya harus menyerah pada keadaan. memasuki area pegunungan, pemadangan indah sekali... sepertinya sudah dekat, ternayta masih 1 stgh jam lagi, dan waktu hampir memasuki kec sajingan tp bukan dusun yg kami maksud, kami makan di sebuah rumah makan dengan tagline "rumah makan masakan jawa" semuaaa masih tenatan jawa yaa... hehehe 
kami makan apa yang bisa dimakan. ahahha lebayy.. tapi rumah makan itu bagus untuk ukuran perkampungan weiiih... udh mewaah lah ukuraannya. sempet numpang ke kamar kecil, disana ada burng rajawali baru pertama liad langsung dan sedekat itu.. wiuuh seneng bener rasanya.
gaa lama kami melanjutkan lagi perjalanan kami, gaa lama kita ketemu jalan mulus menanjaak.. lalu msuk ke dusu kaliang apa apa gt agak jelek lagi terus masuk ke sebungaaa semuanyaa aspal dan mulus. 
weiiih...
sampe di pertigaan ada seperti monumen daerah perbatasan, dan kami sempat bertanya pada mas-mas yang lagi nongki di warung dekat situ untuk menanyakan tentang keberadaan kepala desa yaitu bapak nampe, dan akhirnya mas-mas itu menunjukan arah ke rmahnya. gaa berapa lama saya turun untuk bertanya dengan mbak-mbak yang ada, dia menunjukan rumah pak nampe, ternayta sudah di depan mata persis di sebelah kiri mobil kami berada, 
saya senang kami disambut hangat, saya melakukan wawancara sekitar 30 menitan dan kami langsung pulang karena sepertiny yg empunya rumah sedang ada acara yang mendesak. 
atas himbauan beliau kami pun ke border perbatsan Indonesia-Malaysia sungguh bagus jalan menuju kesana mulus. 
dan memang hasil wawancara kami denga kepala desa bahwa warga desa Sebunga, bahwa para warga di desa sebunga itu membeli barang kebutuhannya di Malayasia. jalannya mulus gitu, kalo mereka mw ke sambas dengan jalan yang tidak memadai lebih baik ke Malaysia walaupun mgkn sedikit mahal. 
ada beberpa masalah dengan perkebunan sawit tp tidak menjadi hambatan yang berarti.
yaa masalah perbatasan mungkin kondisi jalan, tp tidak di Desa Sebunga, jalannya mulus sekali.dan kepala desa bilang bahwa keseahteraan meningkat setlh adanya jalan.
yaa mudah-mudah isu-isu tentang perbatasan baik jalan dan psikologis masyarakat perbatasan yang sepertinyaa lebih mereka penuhi di malaysia bisa diatasi dengan penanganan yang serius dari pemerintah pusat dan daerah. waktu dan biaya yang masih menjadi masalah untuk permasalahan perbatsan diharpkan segera ditangani.
keseriuasan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat sangat menentukan bagaimana keberhasilan pembangunan di daerah perbatasan, walaupun belum merata melihat keadaan Desa Sebunga sudah menjadi harapan baru yang lebih baik untk masalah perbatasan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

9.40 am

10.17 am di 11 Maret 2014

Kenapa sih?